Akademi Gambut · Dasar-dasar gambut
Karbon di lahan gambut
Lahan gambut Indonesia menyimpan karbon dalam jumlah yang sangat besar untuk luasnya. Berapa banyak, bagaimana menghitungnya, dan apa yang terjadi saat gambut kering atau terbakar.
Lahan gambut hanya menutupi sebagian kecil daratan dunia, tetapi menyimpan karbon dalam jumlah yang sangat besar. Penyebabnya ada di cara gambut terbentuk: karbon dari tumbuhan yang mati tidak kembali ke udara, melainkan tertimbun di dalam air selama ribuan tahun.
Berapa banyak
Perkiraan yang paling sering dikutip menyebut gambut tropis dunia menyimpan sekitar 89 miliar ton karbon, dan Indonesia memegang porsi terbesar, sekitar 57 miliar ton. Angka ini berasal dari Page dan rekan (2011), dan dipakai juga oleh pemerintah. Sebagai pembanding, jumlah itu setara dengan emisi karbon dari bahan bakar fosil seluruh dunia selama beberapa tahun.
Cara menghitung untuk satu lahan
Stok karbon sebuah lahan gambut bisa diperkirakan dari tiga angka:
- Ketebalan gambut (meter)
- Berat isi (bulk density), yaitu berat gambut kering per volume. Untuk gambut tropis umumnya sekitar 0,1 gram per sentimeter kubik, lebih tinggi untuk gambut yang matang.
- Kadar karbon, biasanya sekitar 50 persen dari berat kering.
Dengan angka tipikal itu, setiap meter ketebalan gambut menyimpan kira-kira 500 ton karbon per hektare. Lahan dengan gambut setebal 6 meter berarti sekitar 3.000 ton karbon per hektare, jauh lebih banyak daripada yang tersimpan di batang dan daun hutan di atasnya (umumnya ratusan ton per hektare).
Angka ini hanya perkiraan kasar. Berat isi dan kadar karbon berbeda antar lapisan dan antar lokasi. Untuk perhitungan yang bisa dipertanggungjawabkan, contoh gambut dari pengeboran perlu dianalisis di laboratorium.
Saat gambut kering
Gambut yang dikeringkan terus melepaskan karbon dioksida selama airnya rendah. Pedoman IPCC untuk inventarisasi gas rumah kaca di lahan basah memberi nilai baku emisi dari gambut tropis yang dikeringkan untuk perkebunan: sekitar 11 ton karbon per hektare per tahun untuk kebun sawit, dan sekitar 20 ton karbon per hektare per tahun untuk hutan tanaman akasia. Dalam satuan karbon dioksida, angka ini kira-kira 40 dan 73 ton CO₂ per hektare per tahun.
Emisi ini terjadi diam-diam setiap tahun, tanpa api, selama kanal terus mengeringkan lahan. Dalam jangka panjang jumlahnya bisa menyaingi emisi dari kebakaran.
Saat gambut terbakar
Kebakaran melepaskan karbon jauh lebih cepat. Dalam kebakaran besar 2015, emisi harian dari kebakaran di Indonesia selama September dan Oktober diperkirakan sekitar 11 juta ton CO₂ per hari, lebih tinggi daripada emisi harian seluruh Uni Eropa pada periode yang sama. Sebagian besar emisi itu berasal dari gambut yang terbakar, bukan dari vegetasi di atasnya.
Kenapa ini penting
Bagi Indonesia, menjaga gambut tetap basah adalah salah satu cara paling efektif untuk menurunkan emisi nasional. Sektor kehutanan dan penggunaan lahan, termasuk gambut, menjadi andalan utama dalam target iklim Indonesia. Setiap hektare gambut yang dibasahi kembali menahan karbon yang sudah tersimpan selama ribuan tahun.
Sumber
- Page, S.E., Rieley, J.O., Banks, C.J. (2011). Global and regional importance of the tropical peatland carbon pool. Global Change Biology 17: 798–818.
- IPCC (2014). 2013 Supplement to the 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories: Wetlands. Bab 2, faktor emisi tanah organik tropis yang dikeringkan.
- Huijnen, V., Wooster, M.J., Kaiser, J.W., dkk. (2016). Fire carbon emissions over maritime southeast Asia in 2015 largest since 1997. Scientific Reports 6: 26886.
- Agus, F., Hairiah, K., Mulyani, A. (2011). Pengukuran Cadangan Karbon Tanah Gambut. World Agroforestry Centre dan Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor.