Akademi Gambut · Pemanfaatan dan restorasi
Pemanfaatan lahan gambut
Lahan gambut bisa dimanfaatkan tanpa dikeringkan. Paludikultur, tanaman rawa bernilai ekonomi, perikanan, madu kelulut, dan aturan untuk lahan budidaya.
Masyarakat di Sumatra dan Kalimantan sudah hidup dari lahan gambut jauh sebelum perkebunan skala besar masuk. Mereka mengambil ikan, rotan, getah, kayu, madu dan sagu dari rawa, tanpa mengeringkannya. Pengetahuan ini sekarang punya nama ilmiah: paludikultur.
Paludikultur
Paludikultur berasal dari bahasa Latin palus, rawa. Artinya budidaya di lahan basah yang tetap basah. Tanaman yang dipilih adalah tanaman yang memang tumbuh alami di rawa gambut, atau setidaknya tahan genangan, sehingga muka air tanah bisa dijaga dekat permukaan.
Beberapa tanaman yang sudah dikenal dan punya pasar:
- Sagu (Metroxylon sagu). Sumber pati yang tumbuh baik di gambut tergenang. Riau, terutama Kepulauan Meranti, sudah lama menjadi sentra sagu.
- Jelutung rawa (Dyera polyphylla). Pohon penghasil getah untuk bahan permen karet dan industri, sekaligus kayu ringan.
- Purun (Lepironia articulata). Rumput rawa untuk anyaman tikar, tas dan wadah, banyak dikerjakan perempuan di Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan.
- Gelam (Melaleuca cajuputi). Kayunya dipakai untuk tiang dan cerucuk, daunnya bisa disuling menjadi minyak.
- Balangeran (Shorea balangeran). Kayu keras asli rawa gambut Kalimantan, sering dipakai dalam penanaman kembali.
- Nipah di gambut pantai, untuk gula, atap dan bahan bakar nabati.
Ikan dan madu
Beje adalah kolam ikan tradisional di lahan gambut Kalimantan Tengah. Kolam digali di hutan rawa, lalu terisi ikan liar saat banjir musim hujan. Ketika air surut, ikan terperangkap di kolam dan dipanen. Ikan gabus, papuyu, toman dan sepat adalah tangkapan utamanya.
Madu kelulut dari lebah tanpa sengat banyak dikembangkan di desa-desa gambut. Lebah kelulut membutuhkan hutan yang berbunga sepanjang tahun, sehingga budidayanya justru mendorong masyarakat menjaga tutupan hutan.
Tanaman yang butuh lahan kering
Sawit, akasia, karet dan sebagian besar tanaman pangan tidak tahan genangan. Untuk menanamnya di gambut, air harus dibuang, dan di situlah masalah dimulai: penurunan tanah, emisi karbon, dan risiko kebakaran.
Aturan tidak melarang budidaya di lahan gambut fungsi budidaya, tetapi mewajibkan muka air tanah dijaga paling dalam 40 cm dari permukaan dan melarang pembakaran. Untuk lahan yang sudah terlanjur dibuka, praktik yang lebih baik antara lain:
- Mempertahankan muka air setinggi mungkin dengan pintu air dan sekat kanal.
- Tidak membuka lahan baru di gambut dalam.
- Tidak membakar sisa tanaman.
- Memantau TMAT secara rutin di titik penaatan.
Memilih yang cocok
Tidak ada satu tanaman yang cocok untuk semua lahan gambut. Pilihan bergantung pada ketebalan gambut, seberapa lama lahan tergenang, jarak ke pasar, dan pengetahuan masyarakat setempat. Ke depan, Gambut Intelijen akan memberikan rekomendasi per Kesatuan Hidrologis Gambut berdasarkan kondisi air, ketebalan, dan risiko di masing-masing kubah.
Sumber
- Giesen, W., Nirmala Sari, E. (2018). Tropical Peatland Restoration Report: the Indonesian case. Berbak Green Prosperity Partnership, Millennium Challenge Account Indonesia.
- Tata, H.L., Susmianto, A. (2016). Prospek Paludikultur Ekosistem Gambut Indonesia. Forda Press, Bogor.
- Wichtmann, W., Schröder, C., Joosten, H. (ed.) (2016). Paludiculture: Productive Use of Wet Peatlands. Schweizerbart Science Publishers, Stuttgart.
- Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2014 jo. PP Nomor 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut.