Akademi Gambut · Kebakaran dan banjir
Banjir di lahan gambut
Lahan gambut yang terus turun akhirnya tidak bisa lagi membuang air. Bagaimana pengeringan hari ini menjadi banjir puluhan tahun kemudian, dan apa yang bisa dilakukan.
Kebakaran adalah risiko gambut yang paling terlihat. Banjir datang lebih pelan, tetapi bisa permanen.
Gambut yang tenggelam perlahan
Lahan gambut yang dikeringkan terus turun beberapa sentimeter per tahun (lihat Kanal, pengeringan dan penurunan tanah gambut). Di gambut pedalaman yang tinggi, penurunan ini lama tidak terasa. Di gambut pantai dan gambut dekat sungai besar, permukaan tanah yang semula hanya satu atau dua meter di atas muka sungai bisa mencapai muka air sungai dalam beberapa dekade.
Ketika itu terjadi, gravitasi tidak lagi membantu. Kanal yang dulu membuang air ke sungai sekarang berada setinggi atau bahkan lebih rendah dari sungainya. Air hujan tertahan di lahan, air pasang masuk lewat kanal, dan lahan tergenang berbulan-bulan setiap musim hujan.
Para peneliti menyebut batas ini drainability limit, batas di mana lahan tidak bisa lagi dikeringkan secara gravitasi. Dengan laju penurunan beberapa sentimeter per tahun, lahan gambut pesisir yang hanya satu atau dua meter di atas muka sungai bisa mencapai batas ini dalam hitungan dekade kalau pengeringan terus berlanjut.
Banjir di sekitarnya
Gambut yang sehat menahan air hujan seperti spons dan melepaskannya perlahan ke sungai. Gambut yang rusak kehilangan kemampuan ini. Air hujan lebih cepat mengalir ke kanal lalu ke sungai, sehingga puncak banjir di hilir bisa lebih tinggi. Pada musim kemarau, sebaliknya, aliran sungai yang biasa dijaga oleh gambut berkurang.
Apa yang bisa dilakukan
- Membasahi kembali lahan gambut sedini mungkin memperlambat penurunan tanah, sehingga batas drainase tercapai jauh lebih lambat.
- Menanam tanaman yang tahan genangan di lahan yang sudah rendah, seperti sagu, purun dan beberapa jenis kayu rawa. Bagian ini dibahas di Pemanfaatan lahan gambut.
- Merencanakan tata ruang dengan memperhitungkan elevasi masa depan, bukan hanya elevasi hari ini.
Di peta Gambut Intelijen
Peta Rawan Banjir resmi skala 1:50.000 yang tersedia untuk umum saat ini baru mencakup sebagian provinsi dan belum mencakup daerah gambut utama. Gambut Intelijen sedang menyiapkan lapisan risiko banjir khusus lahan gambut, yang menggabungkan indeks bahaya banjir nasional, ketebalan gambut, penurunan tanah dari satelit radar, dan jarak ke sungai serta laut.
Sumber
- Hooijer, A., Silvius, M., Wösten, H., Page, S. (2006). PEAT-CO2: Assessment of CO2 emissions from drained peatlands in SE Asia. Delft Hydraulics report Q3943.
- Hooijer, A., Page, S., Jauhiainen, J., dkk. (2012). Subsidence and carbon loss in drained tropical peatlands. Biogeosciences 9: 1053–1071.
- Wösten, J.H.M., Ismail, A.B., van Wijk, A.L.M. (1997). Peat subsidence and its practical implications: a case study in Malaysia. Geoderma 78: 25–36.
- Badan Informasi Geospasial. Peta Rawan Banjir Skala 1:50.000 (2020), disajikan melalui Satu Peta.